Setiap hari adalah hari yang selalu aku hitung dalam
kalender harianku, setiap hari yang aku lewati selalu aku tunggu-tunggu
kehadirannya, tak lupa juga kalender andalanku aku coret ketika aku telah
melewatinya, dan member catatan-catatan kecil dihari-hari tertentu.
Ah aku
benar-benar tidak sabar ingin segera dewasa. Aku merasa begitu bahagia, begitu
gembira dengan tambahan umur yang dikaruniakan Allah setiap hari kepadaku.
Namun, aku juga harus sadar bahwa sisa umurku terus menghitung mundur.
Ah…….Andai
mati itu enak. Aku tak perlu takut seperti ini. Astagfirulloh!! Mati itu enak
kok, buktinya saja semua orang yang sudah meninggal betah hidup disana, mereka
tidak kembali lahi, toh? He He. Bukan itu yang mau saya bahas kali ini, ini
bagiku lebih menakutkan dari pada kematian.
Ya
Allah, maaf jika ini membuatmu cemburu, Inshaa Allah kau tetap nomor satu,
wahai Rabb.
Ini
benar-benar lebih membuat hatiku teriris ketika aku mengingatnya. Aku tak sabar
menanti kedewasaan, aku sangat bahagia menantinya, namun hal itu bersamaan
dengan semakin menuanya ayah, semakin rentanya tubuh yang gagah mengeluarkan
seluruh peluhnya untuk kami dirumah.
Oh…
Ayah. Orang yang selama ini tak pernah alpa membangunkan aku ketika subuh
dengan sentuhan hangat dari tangannya dan kecupan lembut dari bibirnya yang
melayang ke pipiku, membuat mataku terbuka lebar karna mendapat sentuhan angat
dari malaikat tanpa sayapku.