Ramadhan tahun kemarin, 2013. Aku
begitu bersemangat. Begitu bahagianya aku kehadiran bulan suci-Mu. Bulan penuh
berkah. Aku sambut bulan indah-Mu dengan berniat untuk semakin memperbaiki
diri.
Setiap hari selama sebulan, bukan
hanya menahan lapar dan haus saja, namun aku juga lebih memaknai setiap detik
nafas yang Kau titipkan, setiap detik diri ini diberi seluruh nikmat oleh-Mu,
setiap detik dihari-hari menuju kemenangan.
Disepertiga malam-Mu yang terakhir
aku sangat-sangat merindukan-Mu, aku benar-benar hanya ingin berdua saja
dengan-Mu, memohon ampunan, meminta maaf atas segala dosa yang aku perbuat,
meminta sesuatu yang aku inginkan, memohon segalanya pada-Mu, kekasihku.
Hampir tak pernah berhenti rasa
rinduku ini, ketahuilah bahwa aku hanya dapat membaca surat cinta-Mu ketika
kerinduan ini membara, memuncah dalam jiwaku.
Aku hanya dapat membaca surat
cinta-Mu selama menanti sepertiga malam berikutnya untuk bertemu lagi
dengan-Mu. Untuk berkomunikasi dengan-Mu, untuk menghabiskan waktu berdua saja
dengan-Mu. Sungguh, kita adalah sepasang kekasih yang sangat sempurna karna aku
mencintai Engkau, dan Kau mencintaiku, Allah yang Maha Sempurna.
Disetiap hembusan nafas ini, ada
zikir yang berhembus juga, ada nama-Mu yang mulia tak henti-hentinya aku sebut.
Aku merasa takut, Ya Rabb. Aku begitu menikmati Ramadhan dan memaknainya kala
itu, aku takut bahwa Ramadhan kemarin itu adalah Ramadhan terakhirku. Aku takut
seluruh nikmat yang telah Kau berikan, Kau tarik karna waktunya sudah jatuh
tempo.
Namun apa yang selanjutnya terjadi?
Ramadhan-Mu usai, usai juga aku yang tadinya begitu bersemangat mengejar
cinta-Mu. Setelah Ramadhan usai, aku kembali melakukan kesalahan-kesalahan yang
tidak kau ridhoi. Astagfirullah. Bodoh sekali aku yang melupakan kekasihyang
selalu mengingatku.
Aku jarang mengingat-Mu, sedangkan Engkau tak pernah
sedetikpun melupakanku.
Aku jarang memperhatikan-Mu, sedangkan Engkau begitu
perhatian padaku baik ketika aku sadar atau tidak.
Aku jarang menunjukkan bukti cintaku pada-Mu, sedangkan
Engkau setiap detik selalu membuktikan bahwa Kau mencintaiku dengan segala
nikmat yang Kau berikan.
Engkau selalu merawatku, menerima seluruh permohonan maafku,
ingin selalu melihat aku bahagia, bahkan selalu memberikan yang terbaik.
Dengan rasa kasih sayang-Mu yang
begitu besar terhadapku, sering Kau mengambil perhatianku, agar aku sedikit saja
mengingat-Mu. Dengan cara Kau mengambil beberapa nikmatku sebentar, dalam waktu
yang sangat singkat. Contohnya adalah penyakit. Kau memberi aku penyakit kecil,
itu karna Kau rindu akan keluh kesahku, Kau rindu akan suaraku memohon
kesembuhan. Namun apa yang terjadi? Tak jarang aku mencibir karna nikmat yang
hanya sebentar saja Kau ambil.
Dalam renungan malam Ramadhan ke 26
ditahun 2014, aku merenungi seluruh perjalanan hidupku selama ini. Tiba-tiba
aku mengingat seluruh kesalahan-kesalahanku, seluruh kebohongan-kebohonganku,
seluruh kecurangan-kecuranganku, seluruh zina-zina yang telah aku lakukan
terhadap-Mu. Seluruh hal negatif, bahkan aku merasa kalau hidupku 80% diisi
dengan keburukan. Astagfirullah.
Perasaan itu muncul lagi. Aku
merasa takut bahwa Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhirku dibumi
milik-Mu ini.
Ya Rahim, maafkan aku. Sungguh aku
benar-benar menyesal. Seandainya aku berbuat seperti ini pada sesama manusia,
sungguh tak akan pernah orang itu kembali untuk aku yang telah mengabaikannya. Namun
Engkau tidak, Engkau tetap bersamaku. Betapa aku baru menyadari dicintai oleh
Sang Pemilik Cinta adalah hal yang sangat indah dan takkan terganti oleh
apapun.
Coba deh, setelah tahu kalau kita
dicintai oleh lawan jenis, diperhatika oleh doi, pasti kita merasa seperti
melambung terbang ke udara, memikirkan si dia sampai tidak bisa tidur, senang
sepanjang hari, pokoknya klepek-klepek deh. Nah gimana kalau dicintai Sang
Pemilik Cinta? Dicintai oleh Allah yang ngasih kita nafas selama ini, duh ga
kebayang, senangnya bukan hanya sepanjang hari, bahkan seumur hidup ya. LUAR
BIASA.
Setelah aku renungi malam ini, ah
benar! Aku harus menganggap Allah sebagai kekasihku. Didepan kekasih pasti kita
ingin selalu terlihat paling baik kan? Selalu kita berbuat yang terbaik agar
terlihat paling baik dimata kekasih, rasanya apa yang diperintah kekasih ingin
kita turuti saja. Apalagi kalau kita tahu perintahnya itu membuat kita semakin
baik lagi. Wah tidak tunggu waktu lama pasti langsung dilaksanain. Bener ga?
Fikiranku saat ini tidak karuan. Aku
berfikir bagaimana cara agar aku bisa semakin dekat dengan Allah, kekasihku.
Allah, aku ingin segera berhijab. Iya! Menutupi seluruh bagian tubuhku, agar
tak terlihat pesonaku didepan orang banyak. Agar Allah juga tidak cemburu
ketika tubuh kekasihnya yang indah ini dilihat banyak orang. Ah jadi Ge’er
saya. Tapi benar loh, kita semua indah kok. Sempurna! Tak ada cacat sama sekali
tuh? Allah pasti kasih bentuk tubuh yang
pas untuk kita.
Ya Rahim, aku ingin berhijab, namun
aku tak ingin ada hijab diantara kita. Tak ingin ada hijab sama sekali antara
aku dan diri-Mu, sehingga kita dapat terus saja berduaan. ‘Tak ingin ada hijab
diantara kita’ itu bukan berarti aku tak ingin berhijab, itu berarti bahwa aku
tak ingin ada jarak sama sekali antara aku dengan Sang Pemilik Cinta diseluruh
jagad raya ini. Tak ingin ada apapun yang menutupi antara aku dan Kamu, Wahai
Allah.
Aku ingin terlihat cantik sempurna
didepan kekasihku. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk kekasihku, Allah
swt. Aku ingin selalu dicintai oleh-Mu, Ya Rabb. Aku ingin menarik
perhatian-Mu, aku benar-benar ingin selalu dekat dengan-Mu.
Karna aku tahu, Engkau sma sekali tak mengabaikan cinta hamba. Karna mencintai-Mu, tidak akan pernah membuat hati ini sakit. Justru membuat hati hamba selalu tenang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar