Kamis, 24 Juli 2014

Aku ingin berhijab namun tak ingin ada hijab diantara kita

Ramadhan tahun kemarin, 2013. Aku begitu bersemangat. Begitu bahagianya aku kehadiran bulan suci-Mu. Bulan penuh berkah. Aku sambut bulan indah-Mu dengan berniat untuk semakin memperbaiki diri.
Setiap hari selama sebulan, bukan hanya menahan lapar dan haus saja, namun aku juga lebih memaknai setiap detik nafas yang Kau titipkan, setiap detik diri ini diberi seluruh nikmat oleh-Mu, setiap detik dihari-hari menuju kemenangan.

Disepertiga malam-Mu yang terakhir aku sangat-sangat merindukan-Mu, aku benar-benar hanya ingin berdua saja dengan-Mu, memohon ampunan, meminta maaf atas segala dosa yang aku perbuat, meminta sesuatu yang aku inginkan, memohon segalanya pada-Mu, kekasihku.

Hampir tak pernah berhenti rasa rinduku ini, ketahuilah bahwa aku hanya dapat membaca surat cinta-Mu ketika kerinduan ini membara, memuncah dalam jiwaku.
Aku hanya dapat membaca surat cinta-Mu selama menanti sepertiga malam berikutnya untuk bertemu lagi dengan-Mu. Untuk berkomunikasi dengan-Mu, untuk menghabiskan waktu berdua saja dengan-Mu. Sungguh, kita adalah sepasang kekasih yang sangat sempurna karna aku mencintai Engkau, dan Kau mencintaiku, Allah yang Maha Sempurna.

Disetiap hembusan nafas ini, ada zikir yang berhembus juga, ada nama-Mu yang mulia tak henti-hentinya aku sebut. Aku merasa takut, Ya Rabb. Aku begitu menikmati Ramadhan dan memaknainya kala itu, aku takut bahwa Ramadhan kemarin itu adalah Ramadhan terakhirku. Aku takut seluruh nikmat yang telah Kau berikan, Kau tarik karna waktunya sudah jatuh tempo.

Namun apa yang selanjutnya terjadi? Ramadhan-Mu usai, usai juga aku yang tadinya begitu bersemangat mengejar cinta-Mu. Setelah Ramadhan usai, aku kembali melakukan kesalahan-kesalahan yang tidak kau ridhoi. Astagfirullah. Bodoh sekali aku yang melupakan kekasihyang selalu mengingatku.

Aku jarang mengingat-Mu, sedangkan Engkau tak pernah sedetikpun melupakanku.
Aku jarang memperhatikan-Mu, sedangkan Engkau begitu perhatian padaku baik ketika aku sadar atau tidak.
Aku jarang menunjukkan bukti cintaku pada-Mu, sedangkan Engkau setiap detik selalu membuktikan bahwa Kau mencintaiku dengan segala nikmat yang Kau berikan.
Engkau selalu merawatku, menerima seluruh permohonan maafku, ingin selalu melihat aku bahagia, bahkan selalu memberikan yang terbaik.

Dengan rasa kasih sayang-Mu yang begitu besar terhadapku, sering Kau mengambil perhatianku, agar aku sedikit saja mengingat-Mu. Dengan cara Kau mengambil beberapa nikmatku sebentar, dalam waktu yang sangat singkat. Contohnya adalah penyakit. Kau memberi aku penyakit kecil, itu karna Kau rindu akan keluh kesahku, Kau rindu akan suaraku memohon kesembuhan. Namun apa yang terjadi? Tak jarang aku mencibir karna nikmat yang hanya sebentar saja Kau ambil.

Dalam renungan malam Ramadhan ke 26 ditahun 2014, aku merenungi seluruh perjalanan hidupku selama ini. Tiba-tiba aku mengingat seluruh kesalahan-kesalahanku, seluruh kebohongan-kebohonganku, seluruh kecurangan-kecuranganku, seluruh zina-zina yang telah aku lakukan terhadap-Mu. Seluruh hal negatif, bahkan aku merasa kalau hidupku 80% diisi dengan keburukan. Astagfirullah.

Perasaan itu muncul lagi. Aku merasa takut bahwa Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhirku dibumi milik-Mu ini.

Ya Rahim, maafkan aku. Sungguh aku benar-benar menyesal. Seandainya aku berbuat seperti ini pada sesama manusia, sungguh tak akan pernah orang itu kembali untuk aku yang telah mengabaikannya. Namun Engkau tidak, Engkau tetap bersamaku. Betapa aku baru menyadari dicintai oleh Sang Pemilik Cinta adalah hal yang sangat indah dan takkan terganti oleh apapun.

Coba deh, setelah tahu kalau kita dicintai oleh lawan jenis, diperhatika oleh doi, pasti kita merasa seperti melambung terbang ke udara, memikirkan si dia sampai tidak bisa tidur, senang sepanjang hari, pokoknya klepek-klepek deh. Nah gimana kalau dicintai Sang Pemilik Cinta? Dicintai oleh Allah yang ngasih kita nafas selama ini, duh ga kebayang, senangnya bukan hanya sepanjang hari, bahkan seumur hidup ya. LUAR BIASA.

Setelah aku renungi malam ini, ah benar! Aku harus menganggap Allah sebagai kekasihku. Didepan kekasih pasti kita ingin selalu terlihat paling baik kan? Selalu kita berbuat yang terbaik agar terlihat paling baik dimata kekasih, rasanya apa yang diperintah kekasih ingin kita turuti saja. Apalagi kalau kita tahu perintahnya itu membuat kita semakin baik lagi. Wah tidak tunggu waktu lama pasti langsung dilaksanain. Bener ga?

Fikiranku saat ini tidak karuan. Aku berfikir bagaimana cara agar aku bisa semakin dekat dengan Allah, kekasihku. Allah, aku ingin segera berhijab. Iya! Menutupi seluruh bagian tubuhku, agar tak terlihat pesonaku didepan orang banyak. Agar Allah juga tidak cemburu ketika tubuh kekasihnya yang indah ini dilihat banyak orang. Ah jadi Ge’er saya. Tapi benar loh, kita semua indah kok. Sempurna! Tak ada cacat sama sekali tuh? Allah pasti kasih  bentuk tubuh yang pas untuk kita.

Ya Rahim, aku ingin berhijab, namun aku tak ingin ada hijab diantara kita. Tak ingin ada hijab sama sekali antara aku dan diri-Mu, sehingga kita dapat terus saja berduaan. ‘Tak ingin ada hijab diantara kita’ itu bukan berarti aku tak ingin berhijab, itu berarti bahwa aku tak ingin ada jarak sama sekali antara aku dengan Sang Pemilik Cinta diseluruh jagad raya ini. Tak ingin ada apapun yang menutupi antara aku dan Kamu, Wahai Allah.

Aku ingin terlihat cantik sempurna didepan kekasihku. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk kekasihku, Allah swt. Aku ingin selalu dicintai oleh-Mu, Ya Rabb. Aku ingin menarik perhatian-Mu, aku benar-benar ingin selalu dekat dengan-Mu.


Karna aku tahu, Engkau sma sekali tak mengabaikan cinta hamba. Karna mencintai-Mu, tidak akan pernah membuat hati ini sakit. Justru membuat hati hamba selalu tenang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar