Rabu, 23 Juli 2014

Diatas Sajadah Cinta

                Rembulan nampang menjadi raja saat ini, ia telah melahap mentari yang biasanya menyinari jagad. Waktu telah menunjukkan tengah malam, namun Nabila masih terjaga dengan duduk didepan layar laptop. Jari jemarinya yang lentik menari-nari diatas keyboard, sesekali terlihat senyum merekah dibibirnya.

               Di lain tempat, kumandang adzan Isya yang dilantunkan disalah satu masjid bersejarah dikota tersebut menandakan akan seruan Allah untuk mengajak hamba-hamba memuja-Nya. Nampak pemuda Indonesia penerima beasiswa juga sedang melakukan hal yang sama dengan Nabila. Amar. Ia hanya anak pengurus pesantren didaerah Jawa, namun saat ini ia telah membuktikan bahwa ia mampu berada bersama lebih dari 100 pelajar Indonesia yang meraih beasiswa dinegeri dua benua, Turki.

                Nabila dan Amar telah saling mengenal dari sebuah jejaring sosial sekitar 4 bulan yang lalu,
Nabila yang saat ini sangat mencintai kota yang dihuni oleh Amar, membuat hubungan pertemanan mereka menjadi lebih akrab. Tak jarang mereka membicarakan apapun yang ada di Istanbul. Mulai dari makanan, tempat wisata, oleh-oleh, sesuatu yang menarik disana, dan lain sebagainya.

Amar, aku tidur dulu ya, besok aku harus kuliah.
Disini sudah hampir tengah malam.

Baiklah, aku juga ada tugas yang harus terselesaikan.
Semoga Allah menjagamu dalam lelap.

Aamiin.

                Begitulah pesan yang mengakhiri pembicaraan mereka malam ini. Ada senyum yang merekah juga diwajah mungil Nabila ketika ia ingin membaringkan tubuh beristirahat ditengah dinginnya malam. Mendengar kabar bahwa 1 bulan lagi Amar akan pulang ke tanah air, itu berarti mereka berdua akan bertemu. Kabar tersebut akan menjadi bunga tidur Nabila malam ini.

                Waktu telah menunjukkan pukul 3 pagi di kamar Nabila. Suara alarm henfonnya bunyi menandakan ia harus segera solat malam. Begitu membuka mata ia bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, lalu melaksanakan sholat malam yang secara rutin ia lakukan. Segera saja Nabila mengambil air wudhu dan bermunajat kepada Allah lalu kembali tertidur.     
        
Waktu terus berjalan maju, tak terasa hari ini adalah hari kepulangan Amar ketanah air. Hari dimana liburan semester di kota Istanbul dimulai, oleh karna itu ia menyempatkan untuk pulang. Hari ini juga hari dimana Amar dan Nabila bertemu, sebelum Amar pulang kerumahnya di Jogja. Semalam Amar berkata mungkin ia akan landing di Jakarta sekitar pukul 10 pagi, maka pagi-pagi sekali Nabila mandi dan bersiap untuk menemui Amar di Bandara.

                Tiba dibandara Nabila langsung menuju terminal kedatangan dan menunggu Amar.     
                   
“Ya ampun, aku lupa nanya dia menaiki pesawat apa.” Nabila membatin.

Ini benar-benar diluar kendalinya, ia datang kebandara dan saat ini hanya menunggu sosok Amar keluar dari tempat bagasi saja. Nomornya pun ditelfon sama sekali tidak aktif. 1 jam berlalu. 2 jam berlalu. Hampir 2 jam setengah, Nabila mulai bosan dan wajah lelah nampaknya tak dapat ia sembunyikan. Hingga ia melihat pemuda memakai kaos berkerah warna biru keluar dari pintu kedatangan dengan 1 koper kecil dan tas kecil melingkar ditubuhnya,

“Amar……” Nabila sedikit berteriak dan melambaikan tangannya.

            “Oh, hei.” Amar membalas lambaian tangan Nabila.

                Amar menghampiri, ketika Nabila mengulurkan tangan untuk bersalaman, Amar hanya mengangguk dan sedikit menundukkan kepala mengisyaratkan memberi hormat tanpa membalas uluran tangan Nabila. Mereka berdua tak memiliki waktu banyak, namun perbincangan yang sebentar itu nampaknya dapat menghangatkan suasana.

                Kok Amar begitu ya? Katanya pinter, dapet beasiswa juga kan. Tapi mengapa aku merasa etikanya terhadapku kurang? Bukankah itu tidak sopan ketika berbicara dengan orang lain tidak melakukan kontak mata, atau ketika aku sedang bicara ia tidak melihat wajahku.

                Lamunan Nabila segera dihentikan oleh Amar,

                “Ohiya aku ada sedikit oleh-oleh nih.” Ujar amar yang langsung membuka tas lalu mengeluarkan 2 lembar pashmina khas Turki dan beberapa cinderamata lainnya.

                Terlihat bibir mungil Nabila komat kamit mengucap syukur, ia begitu tertarik dengan apapun yang berhubungan dengan Turki, apalagi oleh-oleh yang dibelikan Amar memang asli dari negeri Konstatinopel  itu.

                “Alhamdulillah, Mar. Terimakasih ya, besok-besok kalau pulang belikan yang lainnya juga ya hehe.”

                Dengan segera bersiap untuk menyeret koper dan pergi melanjutkan penerbangan menuju Jogja, Amar menganggukkan kepala dan berbalik meninggalkan Nabila.
              
  ***
Waktu terus berjalan, semakin hari sama sekali tidak ada tanda-tanda yang menandakan Amar menyukai Nabila, atau tertarik sedikit pun tidak. Perbincangan mereka masih saja dingin seperti pertama kali kenal. Mahasiswa jurusan ilahiyat ini sebentar lagi akan menamatkan S1-nya di Istanbul dan segera pulang ke tanah air. Selama 3 tahun ini, mereka rutin bertemu dibandara ketika Amar pulang ke Indonesia, dan ketika ia akan kembali lagi ke Turki.

Semakin hari rasa kagum Nabila terhadapnya semakin bertambah,  nampaknya selama ini tiada alpa ia menyelipkan nama Amar disetiap untaian doanya. Sungguh ia benar-benar tertarik, kagum, bahkan mulai mencintai pria yang belum ia kenal betul. Nabila mulai menaruh harapan yang besar pada sosok pemuda ini.

Assalamualaikum, Nabila. Besok aku pulang, berangkat dari Istanbul tengah malam,
aku menginap di Jakarta sehari. Aku harap kamu bisa menyempatkan waktu untuk bertemu ya.
Wasalam.

Waalaikumsalam. Kok ga kabari dari kemarin sih, Mar?
 Iya insha Allah aku bakal sempetin waktu untuk kebandara

Tiba-tiba saja henfon Nabila bergetar. Tumben sekali, tidak biasanya Amar pulang lebih awal dan memberi kabar dadakan seperti ini. Biasanya jauh hari, sekitar 3 bulan sebelum keberangkatan ia sudah memberi kabar. Ini membuat Nabila sulit mengatur jadwal, mengingat besok ia ada janji dengan teman satu kampusnya.

Keesokan harinya, Nabila mengatur waktu sedemikian rupa agar sorenya ia bisa menemui Amar. Tiba dibandara, segera saja ia menyambut Amar. Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, sikap Amar padanya masih saja kaku, terlalu dingin, dan jarang sekali ia menatap wajah Nabila ketika Nabila sedang berbicara, hanya sesekali saja ia melakukan itu.

“Nabila, aku menginap di Jakarta 1 hari, besok baru pulang. 2 jam lagi aku bakal dijemput sama Pak De. Kita cari makan dulu yuk, sekalian ngobrol-ngobrol.” Amar tersenyum.

Nabila segera mengangguk dan mereka berdua meninggalkan pintu kedatangan untuk mengisi jasmani keduanya.

“Nab, kita sudah kenal hampir 4 tahun, tapi kamu dan aku selama ini belum dapat saling mengenal dengan baik. Boleh ga cerita tentang hidup kamu? Seputar kepribadian dan keluarga.” Amar meminta dengan serius.

“Iya benar sekali, kita sudah kenal lama, tapi aku pun belum mengenal Amar dengan baik. Baiklah, jadi namaku Nabila Sanliurfa, orang tuaku juga mengagumi Turki, maka aku diberi nama Sanliurfa. Kalau tidak salah itu nama salah satu masjid di Turki kan? Seperti yang kamu lihat kemarin, selama 3 tahun kita bertemu dibandara ini, aku belum berhijab,  namun tahun ini aku mulai berhijab, aku mulai malu kalau Allah melihatku dengan pakaian terbuka, aku ingin menjadi lebih baik lagi setiap harinya. Aku ini keras kepala Mar, kalau aku bilang A, ya A. Aku memiliki banyak sisi buruk, Mar. Aku sering ceroboh dengan apa saja yang aku lakukan. Aku anak kedua dari 3 bersaudara. Ohya sebentar…..” Nabila memotong kalimat, lalu mengmbil dompet dan segera mengeluarkan selembar foto keluarga.

“Yang ini kakakku, namanya Zarqun. Ia sudah berkeluarga, memiliki 1 anak. Dan yang ini adikku, namanya Maryam, ia baru menamatkan SMP. Ini ibuku, ibu hanya ibu rumah tangga biasa. Ia sama seperti ibu lainnya, menghabiskan waktu untuk anak-anak dan datang kepengajian-pengajian dekat rumah. Ini papa, dia kerja di………”

Dengan panjang lebar Nabila menceritakan seluruh kehidupannya, lalu ia meminta Amar untuk menceritakan segala hidupnya.

“Baik, sekarang giliranku. Namaku Amar Maruf Hossein, aku anak ke 6 dari tujuh bersaudara. Beda dengan kamu yang tinggal dikota besar, aku tinggal dipelosok desa, ayahku hanya pengurus pesantren dan ibuku tidak bekerja. Ibu rumah tangga biasa, ia begitu telaten memperhatikan anak-anaknya. Kakakku sudah 4 orang yang berkeluarga, dirumah hanya tinggal bertiga saja. Mamah, Ayah, dan kakakku Annisa. Adikku Aisyah Alhamdulillah mendapat beasiswa juga di Mesir. Mamah dan ayah begitu telaten mendidik kami, meski kami berasal dari pelosok yang serba kekurangan, lalu……..”

Amar pun seolah tidak mau kalah, ia juga bercerita panjang lebar tentang keluarganya. Dari informasi yang telah dijabarkan Nabila, Amar semakin yakin akan mengatakan niatnya saat ini.

“Begini, Nabila. Aku sudah mengenal kamu dan keluargamu meskipun hanya lewat foto, begitu juga sebaliknya. Semenjak 3 tahun belakangan ini aku terus mencari cari informasi juga tentang kamu. Keputusanku sudah bulat, aku ingin meminangmu…..”

“HAAAH???” Sedikit mengeraskan suara dengan mata yang hampir saja keluar Nabila melotot seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Amaaar….” Nabila berkata dengan suara yang lirih, beda dengan nada bicaranya beberapa detik yang lalu.

“Iya, aku akan meminangmu, rencananya kalau kamu menerima pinanganku saat ini dan mengizinkan malam ini aku dan Pak De ingin menemui orang tuamu.”

“Alhamdulillah, Ya Allah, Subhanallah.” Tanpa melihat sekitar, segera Nabila berdiri, kemudian bersujud disamping meja yang sedari tadi mereka duduki, bendungan yang berada dikelopak matanya tidak dapat menampung air mata bahagia, maka terbentuklah sungai kecil yang mengalirkan bulir air mata bahagia itu dipipi Nabila.

Masya Allah, Nabila melakukan syujud syukur, begitu bahagianya ia. Tidak sia-sia doanya selama ini agar ia dapat bersanding dengan Amar yang begitu ia idam-idamkan. Padahal selama ini sama sekali mereka saling menutupi diri satu sama lain. Nabila begitu kaget, kalau Allah membalas doa-doanya dengan mulus, dan ia bersyukur atas segala yang terjadi.

“Amar, Masya Allah, Mar, Allah mendengar doa-doaku selama ini. Subhanallah.” Nabila seolah benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia terima saat ini.

“Nab, perlu kamu ketahui, selama ini aku belum berani sering-sering menatap wajah kamu, aku takut mendatangkan hal yang tidak diinginkan. Maka dari itu aku menghindari kontak mata denganmu, bukan karna aku tidak sopan. Namun aku takut kontak mata tersebut mendatangkan kerugian. Maaf kalau setiap perjumpaan dan perpisahan kita aku tidak menyalami kamu dengan berjabat tangan, aku betul-betul ingin menjaga kamu. Semenjak bertemu, aku merasa bahwa kelak, kamu akan aku pinang.” Amar menjelaskan.

Pantas selama ini Nabila heran mengapa Amar terlihat kurang sopan, ternyata ini jawabannya.

“Aku setiap malam berdoa agar kamu yang jauh disini dilindungi oleh Allah, agar aku dapat memimpin solat satu langkah didepanmu, agar aku……”

Belum sempat Amar menyelesaikan kalimat, Nabila memotong,
“Maaar. Percaya atau tidak, aku juga melakukan hal yang sama.” Jelas Nabila dengan senyuman.

“Aku begitu bersyukur pada Allah, begitu hebatnya kekuatan sujud kita berdua diatas sajadah cinta. Betapa hebatnya Sang Pemilik Cinta mengabulkan permohonanku.” Amar membalas senyum Nabila.

Tanpa menunggu waktu, Nabila dan Amar beserta Pak De segera mendatangi rumah Nabila dan mengutarakan maksud mereka datang kesana. Keluarga Nabila, meski sedikit kaget akan berita tersebut, namun menyambutnya dengan baik.

Malam itu juga, seluruh hal mengenai pernikahan mereka dibicarakan. Kesepakatan dari kedua pihak adalah mereka melaksanakan akad nikah Blue Mosque, Istanbul dengan membawa beberapa keluarga saja dari Indonesia. Tidak disangka-sangka itu lah Masjid yang diimpikan oleh Nabila selama ini. Dan resepsi dilakukan ditiga tempat. Istanbul, Jakarta, Jogja.

Begitu bahagianya mereka berdua, terutama Nabila. Mereka berdua telah membuktikan bahwa di zaman modern seperti ini, untuk menjemput jodoh, tidak perlu lama-lama dan tidak perlu merepotkan diri dengan berpacaran yang belum tentu akan berjodoh. Mereka berdua sama sekali tidak memberhalakan cinta, tidak membagi cinta mereka kepada Sang Pemilik Cinta dengan orang yang belum halal.
Mereka terus memohon, meminta, memelas kepada Tuhan, diatas sajadah cinta.

"Karna pada dasarnya cinta sebelum akad adalah cinta semu yang tidak perlu disakralkan, diagung agungkan, dan dibanggakan. Dan cinta setelah akad adalah cinta sejati yang sebenarnya."



Catatan kaki dariku : Terbuktikan, puasa Nabila dan Amar mendatangkan hasil yang sangat menenangkan jiwa. Bagi yang belum memiliki jodoh atau sedang mencari jodoh, berpuasa lah. Jangan menodai hidup kalian dengan pacaran, dengan yg belum halal. Heheheh J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar