Setiap hari adalah hari yang selalu aku hitung dalam
kalender harianku, setiap hari yang aku lewati selalu aku tunggu-tunggu
kehadirannya, tak lupa juga kalender andalanku aku coret ketika aku telah
melewatinya, dan member catatan-catatan kecil dihari-hari tertentu.
Ah aku
benar-benar tidak sabar ingin segera dewasa. Aku merasa begitu bahagia, begitu
gembira dengan tambahan umur yang dikaruniakan Allah setiap hari kepadaku.
Namun, aku juga harus sadar bahwa sisa umurku terus menghitung mundur.
Ah…….Andai
mati itu enak. Aku tak perlu takut seperti ini. Astagfirulloh!! Mati itu enak
kok, buktinya saja semua orang yang sudah meninggal betah hidup disana, mereka
tidak kembali lahi, toh? He He. Bukan itu yang mau saya bahas kali ini, ini
bagiku lebih menakutkan dari pada kematian.
Ya
Allah, maaf jika ini membuatmu cemburu, Inshaa Allah kau tetap nomor satu,
wahai Rabb.
Ini
benar-benar lebih membuat hatiku teriris ketika aku mengingatnya. Aku tak sabar
menanti kedewasaan, aku sangat bahagia menantinya, namun hal itu bersamaan
dengan semakin menuanya ayah, semakin rentanya tubuh yang gagah mengeluarkan
seluruh peluhnya untuk kami dirumah.
Oh…
Ayah. Orang yang selama ini tak pernah alpa membangunkan aku ketika subuh
dengan sentuhan hangat dari tangannya dan kecupan lembut dari bibirnya yang
melayang ke pipiku, membuat mataku terbuka lebar karna mendapat sentuhan angat
dari malaikat tanpa sayapku.
Ayah….
Yang selama ini memanggilku dengan sebutan RAJA.
Ya. Benar. Seolah aku adalah orang yang paling berkuasa.
Seolah aku adalah orang yang ia tinggikan.
Seolah ia sangat tunduk kepadaku dan mematuhi segala
perintahku.
Seolah ia yang rela mati demi aku, Raja baginya.
Ayah.. aku baru tersadar, semakin
dewasanya aku, semakin menua dirimu. Ayah tidak tahu ya? Kalau setiap minggu
kau suruh aku mencabuti ubanmu, kadang disela perbincangan kita aku terdiam,
itu karna aku sedang menyeka bendungan dikelopak maya. Aku baru tersadar kalau
ubanmu semakin banyak, dan menandakan kau tak muda lagi, Ayah.
Ah
ingin sekali rasanya aku memohon pada Allah untuk menghentikan umur ayah
beberapa tahuuuun saja. Agar ayah bisa melihat aku tumbuh menjadi dewasa tanpa
ayah yang semakin menua. Andai bisa…….
Ayah,
setiap hari sudah menjadi kebiasaan kau membawa bekal dari rumah untuk
menghemat pengeluaran ketika bekerja dan tak jarang ibu dirumah hanya memasak
seadanya saha, dank au tetap ikhlas membawanya tanpa keluh sedikit pun. Yang
membuatku bangga atasmu, adalah alasan kau membawa bekal bukan hanya menghemat
pengeluaran, namun alas an utamanya adalah ayah menghargai ibu yang subuh-subuh
rela bangun hanya untuk menyajikan masakan terbaik untuk kami.
Tidak adil rasanya, ketika aku
pergi menuntut ilmu menolak bekal yang dibuat oleh ibu dengan merelakan sedikit
waktu tidurnya untuk menyiapkan masakan ini, sedangkan ayah yang mencari uang
saja tidak menolak hal itu.
Ayah, penjaga dari segala penjaga
yang rela mengantar aku kemana pun aku pergi dan rela menjemput aku dimana pun
dan kapan pun. Masih membekas sekali di benak ini ketika setahun lalu aku
mengurus segala keperluan kuliah, ayah rela beberapa kali mengambil cuti, demi
menemani aku seharian hingga petang. Aku rasa, bisa terhitung orangtua yang
cuti hanya demi mengurusi keperluan anaknya masuk kuliah, fikir mereka ‘Kuliah
itu kan berarti sudah dewasa, jadi buat apa ditemani lagi?’ Benar kan? Tapi
lagi-lagi, ayah benar-benar beda. Lagi pula jarang orangtua yang rela melepas
pekerjaan mereka hanya demi hal kecil seperti ini.
“Mereka lebih cinta sama uang jah dari pada sama gue”
“Gue gak butuh uang terus, sekali-kali gue juga butuh kasih
sayang sama kayak lo”
Begitu kira-kira keluhan teman-teman saya yang jengkel
ketika orangtua mereka sibuk mencari uang.
Dari dulu aku berfikir kita akan
bahagia kalau memiliki uang yang banyak, bisa beli apapun yang kita inginkan.
Aku fikir dengan uang kita bisa membeli apapun. Namun aku salah. Rasa syukur
semakin bertambah. Alhamdulillah. Aku tumbuh dari keluarga yang tidak
bergelimang harta, namun aku berani bersumpah kalau aku benar-benar bergelimang
kasih sayang. Ya. Kasih sayang yang sama sekali tidak bisa dibeli oleh temanku
yang selama ini berada dalam hedonism.
Baru-baru ini,saat Ramadhan
kemarin, aku kurang enak badan, tubuhku menolak seluruh makanan yang masuk,
alhasil, aku membatalkan puasa, perut pun merasa kosong. Saat itu kala ujian
dikampus, ayah begitu telaten merawatku, mengantarkan aku, hingga menunggu aku
sampai selesai ujian. Ah Ayah, lagi-lagi membuatku tersanjung.
Biasanya. Wanita seumurku,
diperlakukan seperti ini oleh pacar mereka, lho? Percaya tidak? Namun aku lebih
special. Oleh ayahku, pria yang karenanya aku bisa kuliah, bisa merasakan
bangku kuliah ini.
Oh, Ayah… mungkin bisa terhitung
berapa kali ia memarahiku dengan agak keras. Ayah selalu lembut terhadapku, ia
selalu punya cara untuk membangkitkan mood yang rusak. Ia selalu punya cara
untuk menasehati aku. Ia selalu punya cara untuk menegurky ketika salah, cara
sendiri yang tak pernah orang lain lakukan. Oleh karena itu rasa cintaku terus
bertambah setiap harinya.
Aku saat ini berfikir, tak ada
orang yang lebih pantas mengajarkan arti cinta selain ayah.
Oh, Ayah.. begitu bercahayanya kau
dimataku, you are the nor of my eyes. Aku merasa aku sudah puas dengan seluruh
kasih sayangnya. Ah kalau saja bisa, aku rela tidak membangun rumah tangga, aku
tak ingin menunggu-nunggu waktu dewasaku itu, waktu dewasa yang selama ini aku
nanti, aku rela tidak mengenal semua itu asal aku bersama ayah selalu,
selamanya, sampai kapanpun, hingga nafas ini berhenti, bahkan hingga jiwa ini
terpisah dengan raga, dan bahkan aku ingin bersama selalu di alam yang kekal
itu. Ya Allah, akankah aku bertemu dengannya lagi? Astagfirulloh..
Aku jadi teringat dosa yang selama
ini aku perbuat. Aku ini hanya seorang pendosa. Guru ngajiku pernah bercerita,
jadi begini,
‘Orangtua itu ketika sudah
meninggal ia baru benar-benar mengetahui segala tingkah laku anaknya, baik itu
baik ataupun buruk. Jangan difikir karna orangtua sudah meninggak, sudah tidak
ada didunia ini, kalian jadi seenaknya saja. Ndak begitu anak-anak. Justru
mereka melihat semuanya, bagai malaikat yang mengetahui baik buruknya kita. Di
alam sana, ada dua tipe orang tua, yaitu orangtua yang puas dan yang menyesal.
Yang puas adalah orang yang sangat bangga dengan anaknya, karna ia baru
mengetahui kebaikan-kebaikan anaknya setelah ia sudah tiada. Nah yang kedua
orangtua yang menyesal, ialah orangtua yang ketika meninggal baru mengetahu
ternyata anaknya tak sebaik yang ia kira, dan ia menyesla karna semasa didunia
tidak menegur anaknya. Betapa teriris hati orangtua, nak. Melihat anaknya
seperti itu dan ia belum sempat menegurnya.’
Astagfirullah, kami yang
mendengarnya langsung membuat anak sungai di pipi. Aku teringat begitu banyak
dosa yang aku lakukan, ingin rasanya aku memohon bahwa dosaku, biarlah aku yang
menanggung saja, jangan sekali-kali melibatkan orangtuaku, Ya Allah.
Astagfirullah, lagi-lagi aku
khilaf. Allah kan Maha Pengabul, jika aku memohon dengan sungguh-sungguh pasti
akan dikabulkan. Atau lebih baik aku memohon ampunan pada-Nya. Ah lagi-lagi aku
lalai akan Allah.
Kembali lagi pada kasih sayang
ayah. Malam yang dingin membuatku terasa hangat dipelukan ayah. Malam itu
seperti biasa, ayah tidur bersamaku, peri kecilnya yang tak akan pernah besar,
itulah julukan lain terhadapku. Aku yang asyik menonton box office disalah satu
stasiun tv sesaat memandang ayah yang terlelap dalam tidurnya ditemani oleh
mimpi-mimpi indah. Aku pandang lekat-lekat wajahnya. Oh ternyata ini wajah
lelah yang seharian membanting tulang hanya demi keluarganya, termasuk aku. Ternyata ini wajah yang menemaniku
selama 19 tahun di bumi yang fana ini. Ternyata ini wajah yang terus melihat
oerkembanganku dan ia semakin termakan oleh usia.
Nampak wajah ayah berbeda saat
lebih dari 3 tahun yang lalu ketika ia mengantarku mendaftar SMA, coba lihat!
Disudut matanya terdapat 3 garis lurus, Masya Allah, itukah yang disebut
kerutan? Lihat lehernya yang mengendur, otot-otot wajahnya yang sudah
mengendur, Ya Allah, sudah tua kah ayahku? Sudah tua kah pangeranku?
Lagi-lagi air mata menganak sungai
mengalir deras dengan beberapa tarikan nafas yang membuat dada ini sesak. Ayah,
setua itukah dirimu? Aku benar-benar terbuai akan kasih sayangmu hingga lupa,
lupa kalau waktu perjumpaan kita semakin singkat.
Yang ayah tidak tahu dari aku,
hampir setiap malam mata ini tak berkedip melihat pergerakanmu, Ayah. Aku
melotot memandang lekat-lekat tubuhmu, apa masih ada gerakan teratur di dadamu,
kembang kempir kah? Alhamdulillah, ternyata masih! Aku takut kalau itu
berhenti, naudzubillah.
Akhir –akhir
ini aku begitu mellow, setiap memandang wajahmu, aku sedih. Aku teringat betapa
tidak kuasanya diriku ditinggal olehmu suatu saat nanti.
Disela canda
tawa kita, aku kadang mengalihkan muka, itu bukan karna aku acuh terhadap
candaanmu yang begitu membuatku terpingkal. Bukan karna itu, Ayah! Itu karna
dadaku sesak, penuh dengan rasa sedih teringat betapa suatu saat tak ada canda
seperti ini lagi. Ya Allah aku benar-benar runtuh kalau itu semua terjadi.
Ayah, ketahuilah saat aku menulis ini, aku benar-benar terasa terserang
penyakit asma akut, dadaku sesak, Ayah, aku benar-benar takut kehilanganmu.
Aku takut
kehilangan senyumanmu.
Aku takut
kehilangan cada tawamu.
Aku takut tak
bisa lagi melihat tingkahmu yang (maaf)
seperti orang idiot yang membuatku, bahkan membuat temanku yang datang kerumah
terpingkal.
Aku takut tak bisa lagi dibangunkan oleh suara
lembut dan kecup hangatmu dipagi hari.
Aku takut tak
bisa lagi membuatkanmu secangkir kopi yang biasa, namun bagimu itu istimewa.
Aku takut
saat aku tak lagi menunggu ayah pulang kerja untuk dapat makan malam bersama
dirumah mungil kita.
Aku takut tak
ada lagi telfon dari ayah saat aku pulang terlalu malam, bahkan tak ada lagi
yang menjemput ketika aku pergi jauh dari rumah dan takut naik angkutan.
Aku takut tak
ada lagi tangan-tangan jahil yang selalu menggangguku ketika aku sedang sibuk
dengan urusan pribadi dan kau berniat untuk menarik perhatianku.
Aku takut tak
ada lagi suara mencibir yang justru membuat ibu terpingkal dan lupa akan
amarahnya ketika ia sedang memarahi kita.
Aku takut tak
ada lag yang menemaniku jalan-jalan ketika aku jenuh dirumah.
Aku takut
ketika aku harus sendiri kemanapun aku pergi.
Aku takut
saat malam tak ada lag kehangatan yang sama seperti saat aku didekatmu.
Ayah, sungguh
aku benar-benar takut!!
Ketahui ya,
Ayahku, pahlawanku, pangeranku, heroku, cahayaku, atau apapun sebutan yang
paling mulia untukmu, bahwa aku percaya,
Tak ada orang
lain yang pantas mengajarkan arti cinta selain Ayah, cahayaku yang tak akan
pernah pudar.
Dan ketahui
lah, kau adalah ayah terbaik yang aku
dapatkan, mungkin sudah banyak ribuan orang yang berkata demikian, namun
biarlah,
Meski aku mencintaimu dengan cara yang sama, yang biasa seorang anak lakukan, namun tetaplah kau mencintaiku dengan caramu sendiri, yang tak pernah sama dengan orang tua biasa lakukan.
I love you
more than just to the moon and back :*
what a nice post !
BalasHapuskeep writing
Thanks kak Res, Inshaa Allah :)
BalasHapus