Jumat, 05 September 2014

Mengukir Kasih Sayang Ayah

Setiap hari adalah hari yang selalu aku hitung dalam kalender harianku, setiap hari yang aku lewati selalu aku tunggu-tunggu kehadirannya, tak lupa juga kalender andalanku aku coret ketika aku telah melewatinya, dan member catatan-catatan kecil dihari-hari tertentu.

                Ah aku benar-benar tidak sabar ingin segera dewasa. Aku merasa begitu bahagia, begitu gembira dengan tambahan umur yang dikaruniakan Allah setiap hari kepadaku. Namun, aku juga harus sadar bahwa sisa umurku terus menghitung mundur.

                Ah…….Andai mati itu enak. Aku tak perlu takut seperti ini. Astagfirulloh!! Mati itu enak kok, buktinya saja semua orang yang sudah meninggal betah hidup disana, mereka tidak kembali lahi, toh? He He. Bukan itu yang mau saya bahas kali ini, ini bagiku lebih menakutkan dari pada kematian.

                Ya Allah, maaf jika ini membuatmu cemburu, Inshaa Allah kau tetap nomor satu, wahai Rabb.
                Ini benar-benar lebih membuat hatiku teriris ketika aku mengingatnya. Aku tak sabar menanti kedewasaan, aku sangat bahagia menantinya, namun hal itu bersamaan dengan semakin menuanya ayah, semakin rentanya tubuh yang gagah mengeluarkan seluruh peluhnya untuk kami dirumah.

                Oh… Ayah. Orang yang selama ini tak pernah alpa membangunkan aku ketika subuh dengan sentuhan hangat dari tangannya dan kecupan lembut dari bibirnya yang melayang ke pipiku, membuat mataku terbuka lebar karna mendapat sentuhan angat dari malaikat tanpa sayapku.


                Ayah…. Yang selama ini memanggilku dengan sebutan RAJA.

Ya. Benar. Seolah aku adalah orang yang paling berkuasa.
Seolah aku adalah orang yang ia tinggikan.
Seolah ia sangat tunduk kepadaku dan mematuhi segala perintahku.
Seolah ia yang rela mati demi aku, Raja baginya.

Ayah.. aku baru tersadar, semakin dewasanya aku, semakin menua dirimu. Ayah tidak tahu ya? Kalau setiap minggu kau suruh aku mencabuti ubanmu, kadang disela perbincangan kita aku terdiam, itu karna aku sedang menyeka bendungan dikelopak maya. Aku baru tersadar kalau ubanmu semakin banyak, dan menandakan kau tak muda lagi, Ayah.

                Ah ingin sekali rasanya aku memohon pada Allah untuk menghentikan umur ayah beberapa tahuuuun saja. Agar ayah bisa melihat aku tumbuh menjadi dewasa tanpa ayah yang semakin menua. Andai bisa…….

                Ayah, setiap hari sudah menjadi kebiasaan kau membawa bekal dari rumah untuk menghemat pengeluaran ketika bekerja dan tak jarang ibu dirumah hanya memasak seadanya saha, dank au tetap ikhlas membawanya tanpa keluh sedikit pun. Yang membuatku bangga atasmu, adalah alasan kau membawa bekal bukan hanya menghemat pengeluaran, namun alas an utamanya adalah ayah menghargai ibu yang subuh-subuh rela bangun hanya untuk menyajikan masakan terbaik untuk kami.

Tidak adil rasanya, ketika aku pergi menuntut ilmu menolak bekal yang dibuat oleh ibu dengan merelakan sedikit waktu tidurnya untuk menyiapkan masakan ini, sedangkan ayah yang mencari uang saja tidak menolak hal itu.

Ayah, penjaga dari segala penjaga yang rela mengantar aku kemana pun aku pergi dan rela menjemput aku dimana pun dan kapan pun. Masih membekas sekali di benak ini ketika setahun lalu aku mengurus segala keperluan kuliah, ayah rela beberapa kali mengambil cuti, demi menemani aku seharian hingga petang. Aku rasa, bisa terhitung orangtua yang cuti hanya demi mengurusi keperluan anaknya masuk kuliah, fikir mereka ‘Kuliah itu kan berarti sudah dewasa, jadi buat apa ditemani lagi?’ Benar kan? Tapi lagi-lagi, ayah benar-benar beda. Lagi pula jarang orangtua yang rela melepas pekerjaan mereka hanya demi hal kecil seperti ini.

“Mereka lebih cinta sama uang jah dari pada sama gue”
“Gue gak butuh uang terus, sekali-kali gue juga butuh kasih sayang sama kayak lo”
Begitu kira-kira keluhan teman-teman saya yang jengkel ketika orangtua mereka sibuk mencari uang.

Dari dulu aku berfikir kita akan bahagia kalau memiliki uang yang banyak, bisa beli apapun yang kita inginkan. Aku fikir dengan uang kita bisa membeli apapun. Namun aku salah. Rasa syukur semakin bertambah. Alhamdulillah. Aku tumbuh dari keluarga yang tidak bergelimang harta, namun aku berani bersumpah kalau aku benar-benar bergelimang kasih sayang. Ya. Kasih sayang yang sama sekali tidak bisa dibeli oleh temanku yang selama ini berada dalam hedonism.

Baru-baru ini,saat Ramadhan kemarin, aku kurang enak badan, tubuhku menolak seluruh makanan yang masuk, alhasil, aku membatalkan puasa, perut pun merasa kosong. Saat itu kala ujian dikampus, ayah begitu telaten merawatku, mengantarkan aku, hingga menunggu aku sampai selesai ujian. Ah Ayah, lagi-lagi membuatku tersanjung.

Biasanya. Wanita seumurku, diperlakukan seperti ini oleh pacar mereka, lho? Percaya tidak? Namun aku lebih special. Oleh ayahku, pria yang karenanya aku bisa kuliah, bisa merasakan bangku kuliah ini.

Oh, Ayah… mungkin bisa terhitung berapa kali ia memarahiku dengan agak keras. Ayah selalu lembut terhadapku, ia selalu punya cara untuk membangkitkan mood yang rusak. Ia selalu punya cara untuk menasehati aku. Ia selalu punya cara untuk menegurky ketika salah, cara sendiri yang tak pernah orang lain lakukan. Oleh karena itu rasa cintaku terus bertambah setiap harinya.

Aku saat ini berfikir, tak ada orang yang lebih pantas mengajarkan arti cinta selain ayah.
Oh, Ayah.. begitu bercahayanya kau dimataku, you are the nor of my eyes. Aku merasa aku sudah puas dengan seluruh kasih sayangnya. Ah kalau saja bisa, aku rela tidak membangun rumah tangga, aku tak ingin menunggu-nunggu waktu dewasaku itu, waktu dewasa yang selama ini aku nanti, aku rela tidak mengenal semua itu asal aku bersama ayah selalu, selamanya, sampai kapanpun, hingga nafas ini berhenti, bahkan hingga jiwa ini terpisah dengan raga, dan bahkan aku ingin bersama selalu di alam yang kekal itu. Ya Allah, akankah aku bertemu dengannya lagi? Astagfirulloh..

Aku jadi teringat dosa yang selama ini aku perbuat. Aku ini hanya seorang pendosa. Guru ngajiku pernah bercerita, jadi begini,
‘Orangtua itu ketika sudah meninggal ia baru benar-benar mengetahui segala tingkah laku anaknya, baik itu baik ataupun buruk. Jangan difikir karna orangtua sudah meninggak, sudah tidak ada didunia ini, kalian jadi seenaknya saja. Ndak begitu anak-anak. Justru mereka melihat semuanya, bagai malaikat yang mengetahui baik buruknya kita. Di alam sana, ada dua tipe orang tua, yaitu orangtua yang puas dan yang menyesal. Yang puas adalah orang yang sangat bangga dengan anaknya, karna ia baru mengetahui kebaikan-kebaikan anaknya setelah ia sudah tiada. Nah yang kedua orangtua yang menyesal, ialah orangtua yang ketika meninggal baru mengetahu ternyata anaknya tak sebaik yang ia kira, dan ia menyesla karna semasa didunia tidak menegur anaknya. Betapa teriris hati orangtua, nak. Melihat anaknya seperti itu dan ia belum sempat menegurnya.’

Astagfirullah, kami yang mendengarnya langsung membuat anak sungai di pipi. Aku teringat begitu banyak dosa yang aku lakukan, ingin rasanya aku memohon bahwa dosaku, biarlah aku yang menanggung saja, jangan sekali-kali melibatkan orangtuaku, Ya Allah.

Astagfirullah, lagi-lagi aku khilaf. Allah kan Maha Pengabul, jika aku memohon dengan sungguh-sungguh pasti akan dikabulkan. Atau lebih baik aku memohon ampunan pada-Nya. Ah lagi-lagi aku lalai akan Allah.

Kembali lagi pada kasih sayang ayah. Malam yang dingin membuatku terasa hangat dipelukan ayah. Malam itu seperti biasa, ayah tidur bersamaku, peri kecilnya yang tak akan pernah besar, itulah julukan lain terhadapku. Aku yang asyik menonton box office disalah satu stasiun tv sesaat memandang ayah yang terlelap dalam tidurnya ditemani oleh mimpi-mimpi indah. Aku pandang lekat-lekat wajahnya. Oh ternyata ini wajah lelah yang seharian membanting tulang hanya demi keluarganya, termasuk aku. Ternyata ini wajah yang menemaniku selama 19 tahun di bumi yang fana ini. Ternyata ini wajah yang terus melihat oerkembanganku dan ia semakin termakan oleh usia.

Nampak wajah ayah berbeda saat lebih dari 3 tahun yang lalu ketika ia mengantarku mendaftar SMA, coba lihat! Disudut matanya terdapat 3 garis lurus, Masya Allah, itukah yang disebut kerutan? Lihat lehernya yang mengendur, otot-otot wajahnya yang sudah mengendur, Ya Allah, sudah tua kah ayahku? Sudah tua kah pangeranku?

Lagi-lagi air mata menganak sungai mengalir deras dengan beberapa tarikan nafas yang membuat dada ini sesak. Ayah, setua itukah dirimu? Aku benar-benar terbuai akan kasih sayangmu hingga lupa, lupa kalau waktu perjumpaan kita semakin singkat.

Yang ayah tidak tahu dari aku, hampir setiap malam mata ini tak berkedip melihat pergerakanmu, Ayah. Aku melotot memandang lekat-lekat tubuhmu, apa masih ada gerakan teratur di dadamu, kembang kempir kah? Alhamdulillah, ternyata masih! Aku takut kalau itu berhenti, naudzubillah.

Akhir –akhir ini aku begitu mellow, setiap memandang wajahmu, aku sedih. Aku teringat betapa tidak kuasanya diriku ditinggal olehmu suatu saat nanti.

Disela canda tawa kita, aku kadang mengalihkan muka, itu bukan karna aku acuh terhadap candaanmu yang begitu membuatku terpingkal. Bukan karna itu, Ayah! Itu karna dadaku sesak, penuh dengan rasa sedih teringat betapa suatu saat tak ada canda seperti ini lagi. Ya Allah aku benar-benar runtuh kalau itu semua terjadi. Ayah, ketahuilah saat aku menulis ini, aku benar-benar terasa terserang penyakit asma akut, dadaku sesak, Ayah, aku benar-benar takut kehilanganmu.

Aku takut kehilangan senyumanmu.
Aku takut kehilangan cada tawamu.
Aku takut tak bisa lagi melihat tingkahmu  yang (maaf) seperti orang idiot yang membuatku, bahkan membuat temanku yang datang kerumah terpingkal.
Aku  takut tak bisa lagi dibangunkan oleh suara lembut dan kecup hangatmu dipagi hari.
Aku takut tak bisa lagi membuatkanmu secangkir kopi yang biasa, namun bagimu itu istimewa.
Aku takut saat aku tak lagi menunggu ayah pulang kerja untuk dapat makan malam bersama dirumah mungil kita.
Aku takut tak ada lagi telfon dari ayah saat aku pulang terlalu malam, bahkan tak ada lagi yang menjemput ketika aku pergi jauh dari rumah dan takut naik angkutan.
Aku takut tak ada lagi tangan-tangan jahil yang selalu menggangguku ketika aku sedang sibuk dengan urusan pribadi dan kau berniat untuk menarik perhatianku.
Aku takut tak ada lagi suara mencibir yang justru membuat ibu terpingkal dan lupa akan amarahnya ketika ia sedang memarahi kita.
Aku takut tak ada lag yang menemaniku jalan-jalan ketika aku jenuh dirumah.
Aku takut ketika aku harus sendiri kemanapun aku pergi.
Aku takut saat malam tak ada lag kehangatan yang sama seperti saat aku didekatmu.
Ayah, sungguh aku benar-benar takut!!

Ketahui ya, Ayahku, pahlawanku, pangeranku, heroku, cahayaku, atau apapun sebutan yang paling mulia untukmu, bahwa aku percaya,

Tak ada orang lain yang pantas mengajarkan arti cinta selain Ayah, cahayaku yang tak akan pernah pudar.
Dan ketahui lah, kau adalah ayah  terbaik yang aku dapatkan, mungkin sudah banyak ribuan orang yang berkata demikian, namun biarlah,

Meski aku mencintaimu dengan cara yang sama, yang biasa seorang anak lakukan, namun tetaplah kau mencintaiku dengan caramu sendiri, yang tak pernah sama dengan orang tua biasa lakukan.
I love you more than just to the moon and back :*






2 komentar: